AKU TAK BISA BERPUISI LAGI
Udahlah aku takbisa berpuisi lagi
Ini hanyalah kemarahan
Kepasrahan karena kekalahan…
Gila… haruskah berakhir di ujung bunuh diri
Karena setelah benar ditinggalkan
Dalam hidup seperti tak ada lagi arah tujuan
Terlanjur basah
Ya sudah dalam resah sajalah..
HADIRMU ADALAH LUKA BAGIKU SEPERTI TIADAMU ADALAH KEMATIAN BAGIKU
Entah mimpi apa aku semalem
Serasa tak percaya dia ada disini
Walau setiap kehadirannya adalah luka bagiku
Adalah siksa bagaiku
Karena selalu saja melemparku pada ketakberdayaan
Pada jurang paling dalam kemiskinan
Tak pantas kau yang miskin rindukan aku yang bagai putri
Tahu dirilah apa yang bisa diharapkan dari laki-laki gembel ka loe…
Setiap kehadirannya adlah luka bagiku
Walau setiap saat selalu saya aku nanti kehadiran ini….
Oh … Tuhan …. hingga aku tak bisa lagi bedakan mana tawa dan mana tangisku, karena semuanya adalah sediiiiihh
Hingga aku tak bisa bedakan lagi mana sehat dan mana luka, karena semuanya adalah perih
Hingga aku takbisa bedakan lagi mana harapan dan mana kenyataan, karena semuanya ketakberdayaan
Biarlah….. cukuplah pedihku penggantimu
Cukuplah lukaku penebus cintaku…
SYAIRKU ADALAH TANGISAN PANJANGKU
Aku harus terus menulis
Karena menulis adalah mimpiku
Tapi……
Jika tulisanku adalah tangis?
Haruskah aku terus menulis
Aku harus terus mencinta
Karena cinta adalah ruh dan ujudku
Tapi…..
Jika cinta adalah perih?
Haruskah aku terus mencinta
Para perempuan…..
Jika kau baca syair-syairku
Maka kau akan temukan aliran air mata tiada henti
Maka kau akan temukan kepiluan dan kesepaian tak bertepi
Semua karenamu
Semua karena kumencamu
Entahlah…..
Yang kuyakini perempuan adalah pasangan hidupku
Yang kan mengisi semua celah sepi hidupku
SANG PECINTA
Para pecinta adalah orang-orang gila
Atau para pemabuk
Yang tak pernah ingat realitas
Dalam dirinya hanya ada satu harap
Berkhalwat dengan kekasih
Lisannya takka pernah lepasa dari ingat
Namun…
Kecemburuannya selalu menjajah
Menghancurkan semua ada
Entah…
YANG MANAKAH PEREMPUANKU?
Pembaca…
Kalau boleh bertanya…
Kenapa bidadariku selalu saja adalah bidadari orang lain?
Kenapa perempuan tepilihku selalu saja perempuan terpilih orang lain?
Begitu sedikitkah perempuan cantik di dunia ini sehingga selalu saja tak tersisa untukku?
Begitu sedikitkan perempuan “yang…” padaku
Coba bacalah aku menjawabnya pembaca….
Tapi jika kamu sepertiku, yang menangis di belantara pencarian
Marilah kemari….
Menangislah disini
Menjeritkah disinilah…
Bersamaku agar ramaiiii…
Agar menggema agar Tuhan mendengarnya…
INILAH DIRIKU
Aku seperti ini
Jika mau ambillah
Jika tidak…
Terserah
Asal Tuhan tidak murka
Akupun bahagia
Aku ini seperti ini
Perubahan dalamku
Akan menghilangkanku
Terserah…
Aku telah mengerti diriku
Aku mengerti Tuhanku